Monday, October 12, 2015

What Kenny Learned about Love

Minggu ini akan menjadi minggu yang sangat panjang dan melelahkan bagi Kenny. Terlibat dalam Grand Expo yang diadakan oleh kantornya di salah satu mal terbesar di Jakarta mengharuskannya standby selama 7 hari berturut-turut dalam event ini mulai dari pukul 9 pagi sampai dengan pukul 11 malam, mulai dari persiapan sebelum pameran dibuka sampai dengan setelah waktu tutup pameran. 

Perusahaan tempat Kenny bekerja memang membuat sebuah konsep Grand Expo dalam rangka untuk memperkenalkan dan memasarkan produk baru mereka dalam bidang perangkat telekomunikasi. Handphone qwerty sekaligus touchscreen  pertama yang hadir di Indonesia. Karenanya, seluruh karyawan bekerja keras untuk menyukseskan acara ini, tidak terkecuali Kenny. Kebagian peran sebagai salah satu PIC dalam penjualan mewajibkan Kenny dalam konsolidasi sales program, membantu menentukan petugas-petugas dalam pos-pos penjualan, penjadwalan, supervisi berlangsungnya seluruh proses penjualan pada hari H sampai dengan pelaporan hasilnya. Setelah minggu-minggu yang super stressful, akhirnya hari pertama dimana Grand Expo dimulai datang juga.

Pukul 8 pagi Kenny telah sampai ke tempat acara, bersama dengan beberapa rekan kerjanya yang lain. Hari ini mereka memang janjian untuk hadir lebih pagi agar bisa mempersiapkan 'perlengkapan perangnya' dengan lebih baik. Kenny mengecek sekali lagi kehadiran team petugas di setiap pos penjualan, mulai dari sales, kasir, bagian logistik, kemudian melakukan briefing dan berdoa bersama agar pameran hari itu dapat berjalan dengan lancar. Semua anggota team kelihatan sangat siap dan bersemangat, meskipun beberapa di antara bagian logistik masih terlihat mengantuk akibat lembur semalam saat loading barang.

"Oke, teman-teman, sebentar lagi mal-nya buka nih, semangat ya...," teriak Kenny menyemangati team-nya.

Pukul 10 tepat terlihat antrian untuk pembelian produk mereka mulai mengular. Bos Kenny memang menggunakan strategi penjualan yang tepat dimana memberikan diskon 40% untuk 100 pembeli pertama setiap harinya, kemudian diskon 20% untuk pembeli selanjutnya pada hari yang sama. Tidak heran kalau sedari pagi para calon pembeli sudah tidak sabar menunggu line antrian dibuka. 

"Silahkan antri dengan tertib, Bapak/Ibu, semua pasti kebagian, jangan dorong-dorong." Terlihat 4 orang petugas keamanan sudah sibuk mengatur barisan dan ketertiban dari para calon pembeli di pagi itu.

"Ken, udah laporan di grup belum?" Dinda, rekan kerja Kenny yang juga ikut bertugas hari ini, menghampiri cewek itu.
"Ini, lagi foto-foto trus upload deh di grup," Kenny terlihat sibuk memencet tombol Blackberry-nya dan terdengar suara klik...klik...klik... ketika ia mem-foto antrian dan kegiatan penjualan di pagi itu. Sudah kebiasaan di team mereka jika kegiatan pameran langsung dilaporkan di grup BBM yang dibentuk oleh si Bos.

Good, keep the good work, komentar dari si Bos saat Kenny meng-upload  foto antrian calon pembeli yang menurut perkiraan Kenny sudah lebih dari 100 orang saat ini.

Setelah menyelesaikan laporannya di grup, cewek itu menghampiri salah satu pos penjualan untuk memantau langsung kegiatan disana. Terlihat sesekali ia membantu menjawab pertanyaan konsumen mengenai produk mereka.
"Iya, benar Bu, garansi produk kami adalah 12 bulan dari tanggal pembelian, untuk klaim garansi bisa dilakukan ke service center yang tertera di kartu garansi ini, Bu," Kenny menjelaskan dengan sabar kepada seorang ibu umur empat puluhan mengenakan baju terusan warna merah yang menyolok. Rambutnya disasak tinggi dan beberapa cincin berlian melingkari jari-jari tangannya.

"Wah, ibu-ibu sosialita aja mau ikutan ngantri handphone diskonan yah." Terdengar bisik-bisik dengan suara yang kecil di belakang Kenny yang berasal dari rekan-rekan team-nya, takut-takut kalau kedengaran oleh sang pembeli. Cewek itu hanya tersenyum saja mendengarnya. Si ibu sosialita pun berlalu dengan senyum puas di wajahnya sambil menenteng plastik kecil berwarna kuning yang berisi pesanan handphone-nya.

Segera setelah ibu tersebut berlalu, muncullah pasangan orangtua di hadapan Kenny. Cewek itu memperkirakan si Bapak berusia sekitar enam puluhan dengan istrinya yang berusia tidak jauh di bawahnya. Berbeda dengan penampilan si ibu sosialita sebelumnya, penampilan pasangan ini sangatlah sederhana. Si Bapak mengenakan kaos berkerah dengan corak garis-garis hitam-putih yang bisa Kenny pastikan bukanlah merk terkenal dengan lambang orang menunggang kuda itu, dipadu dengan celana bahan hitam yang sudah kelihatan lusuh. Kerutan terlihat hampir di seluruh wajahnya dengan rambut di kepalanya yang telah memutih. Sedangkan istrinya, menggunakan baju terusan bunga-bunga bahan katun. Mereka terlihat membawa sebuah kantong plastik warna hitam.

Saat menghampir meja pencatat pesanan, wajah keduanya terlihat sumringah. Kenny segera menyambut pasangan tersebut dengan senyuman. "Bapak dan Ibu mau beli handphone tipe apa?"
"Yang promo itu aja, Mba, yang diskon 40%," si Bapak menjawab malu-malu.
"Baik, Pak, mau warna apa? Ada 3 warna, hitam, putih dan merah," Kenny menjelaskan.
Si Bapak kelihatan berdiskusi kecil dengan istrinya sebelum menjawab, "Merah aja, kata istri saya, anak kami sukanya warna merah."
"Oh, buat anak Bapak ya, baik," Kenny mengangguk-angguk dan menginstruksikan kepada si pencatat pesanan untuk membuatkan nota penjualan.

"Langsung bayar disini ya, Pak," Rani, petugas yang mencatat pesanan pasangan tersebut memperlihatkan harga yang tertera di nota dan menunggu pembayaran dari mereka.
"Ermm...t-tapi, uangnya receh boleh ga?" Bapak itu terlihat ragu-ragu.
"Boleh, gapapa kok, Pak, yang penting uang, hehe...," Kenny berusaha mencairkan suasana melihat keraguan di wajah si Bapak.

Taulah Kenny sekarang, apa yang dibawa oleh pasangan tersebut dalam kantong hitamnya. Mereka segera mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan dari dalam plastik tersebut. Koreksi, bukan beberapa, melainkan ratusan. Semuanya terdiri dari uang seribuan, beberapa lembar uang lima ribuan serta kepingan uang logam lima ratusan. 
"Maaf ya, Mba, uangnya receh semua." Kenny melihat sekilas rona merah menjalari kedua belah pipi Bapak tersebut. Istrinya tidak kalah salah tingkahnya.
Cewek itu tersenyum. "Gapapa, Pak, Bu, beneran, kami hitung dulu ya."
Sigap Rani dan satu orang lainnya kemudian membantu menghitung uang tersebut.

"Kami nabung sejak lama, Mba, buat beliin handphone buat putri kami yang baru aja naik ke kelas 3 SMP," Bapak tersebut terlihat menjelaskan. "Saya cuma supir angkot, jadi sehari-hari buat makan aja pas-pas-an. Tapi putri kami pengen banget punya handphone seperti teman-teman di sekolahnya. Sudah lama dia mintanya. Saya suruh sabar aja, untung anaknya mau ngerti. Jadi tiap hari kami sisihkan uang yang kami punya dalam celengan," Bapak tersebut melanjutkan. 
"Syukur ya, Pak, sekarang bisa kebeli juga, Nisa pasti senang banget. Untung lagi ada diskon-diskon gini juga," kali ini giliran si Ibu yang angkat bicara. Ia menggenggam tangan suaminya dengan erat. 

Kenny, Rani dan beberapa orang yang ada disana - Dinda dan 2 orang lainnya ikut nimbrung membantu menghitung uang saat melihat uang receh bergeletakan di atas meja agar antrian pembeli bisa cepat dilayani kembali - terdiam setelah mendengar penuturan pasangan tersebut. Kenny berani bertaruh, teman-temannya pasti merasakan apa yang ia rasakan saat ini.
Kenny tersenyum sebelum berkata, "Sebentar ya, Pak, Bu," dan kemudian memalingkan wajahnya dan berjongkok di bawah meja, pura-pura sibuk memeriksa stok barang yang ada disana. Tak terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipinya. Cewek itu merasa trenyuh dengan apa yang didengarnya barusan. 

Oh, Tuhan, sungguh orangtua yang sangat mencintai anaknya, mereka berani berkorban apa saja demi kebahagiaan si anak, cewek itu membatin, sangat terharu. Semoga Tuhan memberikan kekuatan bagi pasangan ini serta rejeki yang melimpah di hari-hari yang akan datang, ia berdoa dalam hati.

Dinda yang menoleh ke arah Kenny, mengulurkan selembar tissue ke tangan cewek itu agar ia bisa menghapus air matanya. Mereka berdua berpandangan dalam diam. Tidak perlu mengucapkan kata-kata apapun juga untuk tau apa yang ada di hati mereka masing-masing saat ini, doa yang sama untuk pasangan tersebut pastinya.

Saat Kenny kembali menghampiri meja penjualan, Rani dan rekannya telah selesai menghitung uang. "Semuanya lima ratus empat puluh sembilan ribu, Pak, pas ya," Rani menyerahkan nota. Ia kemudian mempersilahkan pasangan tersebut untuk bergeser ke bagian pengecekan dan serah terima barang. Kenny pun ikut bergerak ke arah pasangan tersebut. Cewek itu membantu membungkus kembali kotak handphone setelah pengecekan selesai dilakukan.

"Ini, Pak, Bu, handphone-nya, semoga anak Bapak dan Ibu senang ya menerimanya." Kenny menyerahkan bungkusan warna kuning dengan sikap penuh hormat. Ya, cewek itu merasa sangat respect kepada pasangan yang ada di hadapannya saat ini. Pasangan yang sangat sederhana tersebut telah menunjukkan arti cinta dan pengorbanan yang sesungguhnya. 

"Makasih, Mba, pasti, Nisa pasti senang banget," si Bapak merangkul bahu istrinya sambil tersenyum lebar dan kemudian meninggalkan area penjualan.

Kenny melihat punggung keduanya bergerak menjauh dan membatin, Terima kasih, Tuhan, atas pelajaran hari ini. Ia pun tersenyum dan melanjutkan tugasnya hari itu dengan hati yang sangat gembira.

"what love is love if without giving, what life is life if without sharing" VC

Friday, October 9, 2015

A Poem Written by Tris

Ada kalanya ketika seseorang harus mundur sejenak
melihat kembali ke hari kemarin
ke hari-hari dimana ia begitu bahagia
begitu sedih
begitu gembira
dan begitu terluka

Berhentilah sesaat untuk memikirkan
bagaimana, kapan, dan dimana segalanya terjadi

Renungkanlah
bahwa bukan sang waktu
bukan dimana
dan bukan siapa
yang menggoreskan semua itu

Jawabannya ada
di dalam hati setiap manusia
karena hidup adalah sebuah pilihan
Tidaklah penting apa yang kamu dapatkan dalam hidupmu
tetapi apa yang kamu taruh ke dalam hidupmu

Benar adanya
ada kalanya seseorang harus mundur sejenak
tetapi ada pula waktunya
seseorang harus terus melangkah
untuk melanjutkan hidupnya
bukan hanya untuk berbahagia 
bukan hanya untuk bersuka cita
tapi juga untuk bersedih
untuk terluka 
dan untuk terjatuh kesekian kalinya
karena itulah yang kau taruh dalam hidupmu
agar hidupmu lebih bermakna

"VC"