Wednesday, September 30, 2015

Livy's Random Thought

Beberapa hari ini, hampir seluruh media massa ramai memberitakan tentang eksekusi mati terpidana pengedar narkoba. Hampir seluruh pengguna sosial media seperti Facebook pun tidak ketinggalan membahasnya. Setiap aku membuka News Feed, yang muncul adalah postingan-postingan mengenai hal itu. Ada pro, ada kontra tentunya. Apalagi setelah eksekusi telah selesai dilakukan bagi 8 terpidana mati dan menyisakan penundaan bagi 1 orang terpidana mati tersebut. Tiba-tiba sepertinya semua orang menjadi ahli politik, ahli hukum, ahli kemanusiaan.

Hmmm, aku bukan penggemar perdebatan, bukan juga penikmat pro dan kontra. Tapi, beberapa pemikiran muncul di benakku :
1. Memang benar, para pengedar narkoba itu jahat. Demi mendapatkan keuntungan pribadi, mereka rela mengorbankan orang lain, bahkan sampai dengan nyawa orang lain tersebut pun harus direnggut karena penggunaan obat-obatan yang mereka produksi atau jual-belikan. Memang benar, Indonesia sebagai negara hukum yang berdaulat, mempunyai aturan mainnya sendiri, barang siapa tertangkap mengedarkan narkoba, hukuman mati adalah mutlak. Hampir setiap pengumuman dalam penerbangan menginformasikan hal tersebut, belum lagi plang-plang besar yang terpasang di bandara dan beberapa tempat umum lainnya. Aku bukanlah seorang yang mendukung hukuman mati, karena aku percaya setiap orang bisa berubah dan bisa diampuni. Jika ada jalan selain hukuman mati (hukuman seumur hidup dengan pengasingan di pulau terpencil misalnya), aku rasa itu lebih baik. Sayangnya memang di Indonesia, meski terpidana sudah dipenjara, mereka tetap bisa melancarkan aksinya, tentunya karena dukungan petugas-petugas di sekitarnya yang bermental korupsi, dimana menurutku orang-orang ini juga tidak lebih baik daripada pengedar narkoba tersebut. Karenanya aku juga percaya pada sebuah norma dimana setiap orang wajib menghargai peraturan dan hukum yang berlaku dimana mereka menginjakkan kakinya. Jadi jika pemerintah Indonesia memutuskan hukuman mati adalah jawaban, para pelaku seharusnya sudah mengerti hal itu, begitu pula dengan pihak-pihak lain yang berada di belakangnya, langsung atau tidak langsung.
Tapi, bukan berarti pula mereka boleh dipojokkan oleh seantero pengguna sosmed. Ada yang bilang syukurin, ada yang menepuki, ada yang tertawa, ada yang memaki-maki, ada pula yang tiba-tiba menjelma menjadi "Tuhan" dengan berkata yakin bahwa terpidana mati tersebut akan masuk neraka, selamat bertemu dengan-Nya untuk menjelaskan, atau bahkan bahwa Tuhan tidak akan mengampuninya, buat apa bernyanyi-nyanyi memuji Tuhan sebelum mati. Sebuah pertanyaan, siapakah kita ini sehingga bisa menghakimi seperti itu? Pantaskah kita bertindak seperti itu? Apakah seluruh hidup kita telah melakukan yang terbaik sehingga kita yakin bahwa kita tidak lebih bersalah dari terpidana-terpidana mati tersebut? Apakah kita merasa kita telah menjadi sama seperti Dia sehingga kita bisa tau apa yang Dia pikirkan? Kita tidak pernah tau bagaimana hubungan pribadi mereka sekarang antara orang-orang tersebut dengan-Nya, meskipun status mereka adalah pengedar narkoba. Namanya juga hubungan pribadi, maka hanya antara Tuhan dan orang tersebut yang tau. Memangnya kita tau bahwa Tuhan akan menempatkan mereka di neraka? Memangnya kita tau apakah Tuhan akan mengampuninya atau tidak? Jadi sekali lagi, pantaskah kita menghakimi?

2. Dalam semua ilmu ekonomi, aku tau, ada permintaan maka ada supply. Begitu pula dengan narkoba, menurutku. Ada pengedar, karena ada pemakai. Sekali lagi, aku tau narkoba itu jahat. Dan mungkin orang-orang akan mengataiku karena aku tidak pernah merasakannya, karena tidak ada orang dalam keluargaku yang pernah merasakan akibat buruk dari narkoba. Tapi, menjadi pemakai adalah pilihan. Pemakai juga jauh tidak lebih baik daripada pengedarnya. Orang menggunakan narkoba dengan sadar. Mereka bisa memilih untuk menjauhinya, memilih untuk tidak memakainya. Aku juga bukan orang suci. Main-main di dunia malam, ke club, juga menjadi hal-hal yang menyenangkan bagiku. Kalau kemudian di setiap club yang aku datangi aku memang hanya menikmati dance atau menari-nari berjam-jam, sambil sesekali minum bir, dan bukannya menenggak obat-obatan aneh seperti kebanyakan orang lainnya yang ada di club, maka itu juga adalah pilihan. Kalau aku bisa memilih, maka semestinya demikian pula dengan orang lain. "Dunia rasanya runtuh, aku adalah orang yang paling menderita di dunia ini; aku sakit hati, rasanya mau mati saja; orangtuaku tidak mempedulikanku, mereka terlalu sibuk; oh aku butuh pelarian!!" dan jadilah mereka berlari kepada narkoba. Hello, kamu doank? Kamu doank orang yang paling menderita di dunia ini? Apa kabar Nick Vujicic? Apa kabar Jonathan Pitre, Lizzie Velasquez? Atau Habibi? Atau Stephani Handojo? (kalau kamu tidak tau siapa orang-orang itu, silahkan google). "Aku dijebak temanku, sekarang aku tidak bisa tanpa narkoba". Yah, dijebak oleh orang lain untuk masuk dalam lingkaran narkoba memang suatu peristiwa yang menyedihkan. Tapi bukan berarti tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut, kan? Memang butuh perjuangan dan menyakitkan, hanya masalah mau atau tidak kan? Jadi, apakah para pemakai ini bisa disebut sebagai "hanya korban" saja? Ok, mari kita memisahkan anak-anak kecil yang masih di bawah umur dengan sebutan "korban". Di luar itu, bukankah perlu memilah-milah kembali dalam penggunaan kata-kata tersebut? Sekali lagi, aku bukan pengguna narkoba, keluargaku tidak ada yang menjadi "korban" narkoba, teman-temanku tidak ada yang menjadi pengguna narkoba, hanya karena kami memilih untuk tidak menggunakannya, memilih untuk tidak dekat-dekat dengan lingkungannya, memilih lingkungan tempat kami bergaul sehari-hari, jadi mungkin aku memang tidak tau bagaimana perasaan orang-orang ataupun keluarga yang terlibat di dalamnya.

Kembali ke bahasan awal, putusan sudah dijatuhkan, eksekusi pun sudah dijalankan, jadi hormati saja, hormati keputusan pemerintah, hormati keluarga terpidana dan terpidana mati tersebut. Aku tau banyak yang cinta Indonesia sehingga tiba-tiba menjadi sarkastis, membela negara dengan kata-katanya yang menggebu-gebu, saling serang dan menjatuhkan dalam sosial media. Hanya, kalau boleh berpendapat, cinta negara alangkah baiknya jika diwujudkan dalam perbuatan, urusan hukum, urusan politik, percayakan kepada pemerintah yang mestinya sudah ahli dalam hal ini. Yang pelajar yah belajar dengan baik, yang pekerja yah berkarya dengan baik, agar suatu hari bisa memberikan suatu sumbangsih yang nyata bagi kemajuan bangsa, bukan hanya dalam kata-kata. Atau, mungkin sudah ada yang kamu berikan bagi Indonesia yang kamu sayangi ini? Belum? Yuk kita perbaiki diri sendiri dulu, tidak ada salahnya melakukan tindakan nyata yang terbaik bagi orang-orang di sekitar kita, bagi keluarga misalnya, kasih Papa dan Mama jalan-jalan keliling Indonesia dan luar negeri, kasih anak untuk bisa sekolah di sekolah yang bagus dan mendapatkan pendidikan terbaik, kasih pasangan kita makan malam yang istimewa di restoran impiannya, sudahkah? Atau mungkin hanya tindakan untuk memajukan diri sendiri sehingga kita bisa punya rumah sendiri, mobil, penghasilan yang bagus, travelling, sudahkah?


"life is about choices, you only live once, but if you choose right, once is enough" VC

Thursday, September 24, 2015

Fight, Ellie...Fight!

Hari itu adalah hari di minggu ketiga dimana Ellie menjadi guru les private dadakan. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, institusi les private ini sepertinya agak 'abal-abal' alias kurang profesional. Seingat cewek itu, dia tidak pernah melakukan interview atau bahkan bertemu dengan pengelolanya sekalipun, tapi mereka menerima dan mempekerjakannya hanya berdasarkan konfirmasi by telepon. Entah lebih kepada bodoh atau kebutuhan, Ellie meng-iya-kan saja dan menerima tawaran mereka tersebut. Hmmm..., kalau seandainya kemudian cewek itu tidak digaji pun mungkin dia tidak bisa berbuat apa-apa, dasar anak perantau yang butuh duit.

Sejak semester 3, Ellie sudah melakukan berbagai macam pekerjaan sampingan. Sebagai anak daerah yang merantau ke Jakarta, cewek itu tidak pernah menyangka bahwa hidup di Jakarta akan semahal ini. Uang bulanan yang dikirim Pap untuk membayar kos dan makan sehari-hari tentunya tidak pernah cukup. Diam-diam, tanpa sepengetahuan orangtuanya, dia mulai bekerja sampingan. Kalau ketahuan Pap dan Mam, sudah pasti mereka akan marah dan menyuruhnya untuk konsentrasi belajar, mengirimkan uang lebih banyak, tapi cewek itu tidak tega. Tidak pernah sekalipun keluar kalimat dari mulutnya untuk minta uang tambahan. Berapapun uang yang Pap kirimkan untuknya, dia cukup-cukupkan saja setiap bulannya. 
"El, uangnya cukup bulan ini? Masih ada uang?" begitu selalu tanya Pap setiap menelponnya. 
"Cukup kok, Pap, masih ada," dan begitu pula jawabnya setiap saat, padahal ketika itu mungkin dia sudah harus mencongkel-congkel celengannya di kamar. 

Tidak, aku tidak akan pernah mau minta uang tambahan dari Pap, cewek itu berkeras. Dia tau, berapa banyak biaya yang harus Pap keluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka semua setiap bulannya. Adiknya yang pertama saja baru masuk kuliah, pasti sudah habis biaya yang cukup besar. Belum ditambah dengan adik kecilnya yang masih sekolah. Jadi solusinya, Ellie harus mencari uang tambahan sendiri.

Melihat iklan yang biasa sering ditempel di kampusnya, cewek itu pun mendaftarkan diri untuk menjadi guru les anak-anak SD. Meskipun tidak ada bekal mengajar sama sekali, dia nekat saja. Entah bagaimana caranya akhirnya Ellie pun diterima, dengan upah bayaran Rp 20.000,- per sekali mengajar yang berdurasi kurang lebih 2 jam. Perjalanan menuju ke rumah anak didiknya tersebut sendiri mengharuskannya untuk dua kali berganti angkutan umum serta berjalan kaki. Saat pulang lebih mending, hanya satu kali naik metromini ditambah perjalanan dengan kaki yang jauh lebih panjang. Total biaya perjalanan yang dihabiskan saat itu kurang lebih lima ribu rupiah, jadi yang ia dapatkan hanyalah Rp 15.000,- saja. Meski demikian, Ellie menjalaninya dengan senang. 

Tapi sepertinya, mengajar les is not her thing. Persis sebulan ia mengajar, hari itu seperti biasa Ellie sudah berangkat lebih cepat menuju ke rumah anak didiknya. Cuaca agak kurang bersahabat, mendung. Cewek itu berdoa agar jangan sampai hujan karena ia tidak membawa payung, belum lagi jalan masuk menuju rumah anak itu masih lumayan jauh dari pemberhentian angkutan umum terakhir. Sia-sia, apa yang ia takutkan justru terjadi. Tepat saat cewek itu sudah tiba di pemberhentian, hujan mulai turun. Mau ga mau, Ellie tetap turun. Hujan pun semakin deras. Dengan berjingkat-jingkat ia berusaha berjalan dengan menumpang-numpang teras depan rumah-rumah yang ia lewati di sepanjang jalan, tetap saja hal itu tidak membantu karena hujan benar-benar turun dengan sadisnya. Sesekali ia berhenti sebentar untuk berteduh karena bajunya mulai basah, sembari cemas melihat jam mungil di tangannya yang menunjukkan bahwa ia sudah telat.

Tidak seberapa lama, Ellie nekat berjalan lagi, tapi hujan memang tidak reda-reda. Bajunya kini sudah official basah, dari atas sampai ke bawah. Rambutnya acak-acakan, menggigil kedinginan, namun hujan tetap saja mengguyur dengan sesuka hati. 
Tidak mungkin aku datang ke rumah orang dengan tampilan basah kuyup seperti ini, mana jam sudah menunjukkan bahwa keterlambatanku sudah tidak dapat ditolerir lagi, batinnya dalam hati. 
Dengan pasrah, Ellie mengambil handphone untuk menelepon institusi yang mempekerjakannya dan minta izin bahwa ia tidak dapat datang mengajar. Cewek itu sudah bisa membayangkan bagaimana nasib karir sebagai guru private yang baru ia jalani ini.

Merasa sudah tidak ada yang perlu dipertahankan lagi, Ellie pun berjalan gontai menuju ke arah berlawanan untuk menuju halte metromini yang biasa membawanya pulang. Hujan masih tetap tidak bersahabat, semakin deras memuntahkan airnya ke bumi. Pasrah, dengan seluruh tubuh yang menggigil dan basah tentunya, cewek itu terus memaksakan diri berjalan. Kepalang basah, keluhnya.

Seakan belum selesai tragedinya hari ini, ternyata jalan ia lalui mulai banjir. Ellie teringat bahwa memang daerah ini terkenal dengan banjirnya pada saat hari hujan, ternyata benar. Jadilah cewek itu menerobos banjir yang mulai naik setinggi dengkul kakinya. Perjalanan yang mestinya biasa ia tempuh sekitar 15 menit jalan kaki, serasa menjadi 1 jam di tengah hujan dan banjir ini. Dengan susah payah akhirnya cewek itu tiba di halte dan naik ke metromini, ia hanya ingin segera pulang. 

Jika hari ini Ellie mengingat moment itu kembali, dia bisa menepukkan tangan pada pundaknya sendiri sebagai simbol kebanggaan karena ia tidak sampai cengeng dan menangis, entah bagaimana kalau orang lain yang menghadapi situasi tersebut. Rasa sedih dan kecewa memang besar sekali dirasakannya saat itu. 
Ternyata, cari uang susah sekali yah, mau dapat uang duapuluh ribu aja begitu banget pengorbanannya, begitu pikirnya sendiri kala duduk di dalam metromini itu. Tapi, karenanya cewek itu jadi sungguh-sungguh menghargai perjuangan Pap selama ini yang bekerja keras mencari nafkah demi keluarganya.

Metromini itu tidak hanya membawanya pulang menuju kos, tapi membawanya kepada kesadaran baru bahwa kini ia tau bahwa mencari uang tidaklah gampang, jadi ia harus lebih menghargai dan mempergunakan uang dengan bijaksana. Dan Ellie pun bertekad harus berjuang agar Pap pun tidak harus bekerja seumur hidupnya. Ia bertekad harus segera mandiri secara finansial sehingga tidak perlu merepotkan Pap lagi. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, karir cewek itu sebagai guru les berakhir karena ternyata orangtua si anak tersebut pun tidak mau memakai jasanya lagi gara-gara ia tidak muncul hari itu - wajar, namanya juga orangtua. Namun kejadian itu telah memberikan pengalaman yang sangat berarti buat perjalanan hidup Ellie selanjutnya. 


"it took a little bit pain to appreciate what you have, but it will be worth it, just fight for whatever you want, as it's possible" VC

Wednesday, September 23, 2015

Jane's Principle

Hari ini Jane akan berangkat ke suatu acara seminar bersama teman-teman satu teamnya. Malas membawa mobil - mengingat kemacetan Jakarta yang sudah di luar batas kewajaran - dia minta dijemput saja. Seperti biasa, cewek itu akan ditelepon kalau si penjemput sudah sampai di depan kosnya. Jane masih duduk di atas kasur sambil memelototi acara TV ketika tiba-tiba handphone-nya berbunyi. 
"Woi, ayo keluar sekarang yah, kami sudah di depan nih," seru suara di seberang sana. 
"Ok, tunggu sebentar yah," jawabnya cepat.

Bergegas ia mematikan TV, AC dan lampu kamar, memakai heels-nya dan berjalan keluar. Sesampainya di depan pagar, sebuah mobil Nissan Livina berwarna hitam telah menanti. Segera ia membuka pintu di bagian tengah dan masuk. Di dalamnya sudah ada tiga orang menanti, sambil mengunyah makanan, kelaparan juga rupanya mereka. Mobil pun kemudian mulai meluncur menuju ke tempat acara.

"Kak, mau ga nih cemilan?" Riko menawarkan sambil menjulurkan sebungkus Chitato. 
"Mau dunk, laper belum makan tau," serunya seraya menyambar bungkusan itu dari tangannya. 
Tak lama, kembali Riko bertanya, "Kak, ini boleh buang di depan ga? Buangin dunk," pinta Rico sambil menyerahkan bungkusan plastik snack lainnya yang sudah kosong. 
Belum sempat cewek itu menjawab, terdengar suara dari balik belakang kemudi di bangku depan, "Jane lagi ditanyain, mana mungkin boleh, dia kan miss go green," ujar pemilik suara itu sambil tertawa. 
"Iya, emang ga boleh, masa buang sampah sembarangan, sini!" Jane menarik kasar bungkusan plastik tersebut dari tangan Riko dan menyimpannya.

Yeap, Julio memang menjuluki Jane sebagai "Miss Go Green" sejak ia tidak sengaja memergoki cewek itu sedang memunguti bekas staples yang berserakan di lantai. 
"Ya elah, bekas staples aja dipungutin, rajin amat," godanya saat itu. 
"Biarin, namanya juga sampah, ya musti dibuang ke tempat sampah, kalau bukan kita siapa lagi," Jane mendelik padanya.

Jane memang sangat peduli dengan kelestarian lingkungan, meskipun baru hal-hal kecil saja yang ia lakukan seperti selalu membuang sampah di tempat sampah. Ketika tidak menemukan tempat sampah untuk bungkus permennya atau sekedar kertas bekas selotip amplop, dia lebih rela meletakkannya dulu di dalam tasnya sampai menemukan tempat sampah dan membuangnya di tempat yang seharusnya. Hal ini sering menimbulkan ejekan-ejekan kecil dari teman-temannya seperti pada kasus bekas staples. Tapi Jane cuek saja, tidak peduli, mau dikata kuno, kolot, konservatif, ia tidak ambil pusing. Cewek itu yakin bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Meski ga ngerti-ngerti amat tentang global warming, tapi dia cukup peduli dengan bumi tempat tinggalnya ini.

Jane masih teringat beberapa tahun yang lalu saat teman baiknya, Grace, berpacaran dengan seorang WNA yang berasal dari China. Saat itu mereka sedang berkendara bersama di dalam mobil menuju ke suatu acara pula. Saat Grace hendak membuang kertas keluar dari jendela, si pacarnya itu - yang sekarang sudah menjadi mantan tentunya - mencegahnya membuang kertas itu dan mengambilnya. 
"Aku saja cinta loh sama negara kalian, masa kalian sendiri tidak cinta," ujarnya saat itu. 
Jane merasa tertegun dan sangat malu mendengar ucapan cowok itu. 
"Ya, dia saja yang orang luar bisa menghargai negara kami, masa kami sendiri tidak bisa menjaga lingkungan kami sendiri," pikirnya. Sejak saat itu dia memutuskan untuk tidak pernah lagi membuang sampah sembarangan.

Hal yang sama terjadi pula pada saat persiapan acara pernikahannya. Tidak berminat mengikuti trend yang sedang berkembang saat ini, Jane mati-matian tidak mau menggunakan acara pelepasan balon selesai acara pemberkatan dari Gereja - meskipun di kemudian hari banyak yang bertanya kenapa tidak pakai acara lepas balon, kan keren Jane, begitu kata mereka. 
"Ga ah, ingat global warming," katanya kepada team WO yang menanyakan perihal acara pelepasan balon tersebut. Terbayang oleh cewek itu, 100 balon yang terbang tersebut entah kemana dan entah kapan akan hancur. Stefan, WO-nya, hanya tertawa mendengar jawaban tersebut. Untungnya, Jane punya calon suami yang memang sudah paham seperti apa sifat cewek itu dan ia pun meng-amin-i.

Menjadi berbeda memang tidak mudah, sering terkesan kaku dan terlalu taat peraturan, padahal turut serta berperan aktif menjaga lingkungan bukanlah suatu peraturan, tapi suatu kewajiban. Sayangnya, baru hanya segelintir orang yang sadar akan hal tersebut, apalagi di negara tercinta ini. Mau marah rasanya setiap melihat orang-orang membuang sampah seenaknya melalui jendela mobilnya. Baiklah, kalau belum bisa merubah mereka, setidaknya dimulai dari diri sendiri saja, itu yang menjadi prinsip Jane. Semoga akan lebih banyak orang yang tergerak untuk ikut menjaga negara dan bumi kita tercinta ini, bukan hanya sekedar tau saja.


"it's not about knowing right, but doing right" VC

Laura's Creepy Day

Sedang asik-asiknya mengunyah makanan, tiba-tiba aku merasakan ada yang janggal dengan kunyahanku, terasa ada yang keras, hmmm... Feeling-ku mengatakan seperti mengunyah potongan gigi. Begitu kuambil ternyata benar, beberapa pecahan gigi terlihat disana, yaikss. Dengan bantuan lidah, terasalah bahwa gigi geraham di sisi kanan atas berlubang, hadehh, ini disaster.

"Mammm...itu dokter gigi yang dulu aku pernah kesana, namanya siapa yah?" aku berteriak dari tempat dudukku.
"Yang mana? Om Krisna?" pandangan Mam tetap terarah pada layar televisi.
"Bukan, yang satu lagi, itu kan teman Pap kalau Om Krisna," akhirnya aku berjalan malas-malasan menghampiri Mam.
"Om Yosep?" kali ini Pap yang menjawab. Kacamatanya agak diturunkan demi melihat wajahku saat ini yang kelihatan meringis.
"Nah, iya benar Pap. Masih praktek ga yah? Mau kesana, gigiku berlubang nih, mau minta ditambal aja lah," sahutku sambil menunjuk-nunjuk ke arah pipiku.
"Ke Om Krisna aja kalau gitu," Pap menjawab lagi.
"Ah, ga mau ah, dia suka ga mao terima bayaran, ga enak jadinya." Om Krisna memang tidak pernah mau terima bayaran jika kami memeriksakan gigi atau berobat disana.
"Ngga, udah mau kok sekarang, bentar Mam telpon dulu buat janji," Mam beranjak dari kasur dan meraih handphone-nya.
"Oke."

Saat sedang bersantai siang hari sambil menemani Pap di rumah, handphone-ku berbunyi, ternyata dari Mam.
"Itu Om Krisna katanya bisa hari ini, langsung datang aja nanti jam 6 sore yah," Mam memberitahuku dari seberang sana.
"Siap, Mam," jawabku singkat.

Jam 5.30 sore aku pun berangkat menuju tempat praktek Om Krisna. Bahhh, hujan sejak tadi siang membuat jalanan sedikit macet. Jam 6 pas aku tiba di tempat praktek Om Krisna.

"Hai, Om, pa kabar?" sapaku saat Om Krisna membukakan pintu ruangan prakteknya untukku.
"Hallo, Laura, gimana? Sini langsung duduk aja," ujarnya tanpa basa-basi.
"Ini nih, Om, gigiku pecah tadi, jadi berlubang deh, kayaknya gede lubangnya."
"Oke, biar Om periksa dulu yah." Om Krisna sudah sigap mengeluarkan peralatan-peralatannya yang langsung membuatku refleks untuk memejamkan mata.

Sudah lama tidak pernah duduk di kursi ini, rasanya kok gemetaran yah. Meski aku cukup pemberani dan tahan banting, tapi berasa jiper juga saat mau diperiksa giginya. Tak lama kemudian Om Krisna pun sibuk memeriksa gigiku, sedangkan aku, aku lebih memilih untuk terus memejamkan mataku selama dia mengerjakan tugasnya, jujur aku takut melihat alat-alat yang dia pergunakan masuk ke dalam mulutku.

"Wah...wah, ini harus dicabut," gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
"Ermm...ermmm...," aku tidak bisa bicara banyak dalam posisi mulut terbuka seperti ini.
"Om bersihin karang giginya dulu yah."
"Boleh, Om," susah payah aku berhasil menjawab.

Sedetik kemudian aku menyesali jawabanku ini.
Hal yang kudengar berikutnya adalah suara mesin bercampur dengan alatnya yang kretak-kretuk di sekitar area gigi dan gusiku, sakitnya minta ampun. Terutama saat di area gigi sebelah kiri yang jarang kugunakan - konon katanya semakin tidak digunakan maka karang gigi semakin banyak dan semakin kotor. Ini adalah pengalaman 30 menit terlama dalam hidupku. Ingin rasanya cepat-cepat selesai dan kabur dari kursi itu. Setiap menahan sakit, aku berusaha merenggangkan kakiku sejauh-jauhnya, entah kenapa aku berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya.

"Nah selesai, begini kan lebih enak, sudah bersih gigi kamu. Itu yang berlubang giginya sudah dikasih obat yah, nanti besok kamu balik lagi untuk dicabut," Om Krisna sudah melepas sarung tangan yang tadi ia pergunakan saat memeriksa gigiku.
"Hah? Jadi memang perlu dicabut yah, Om? Sakit ga?" mukaku kelihatan memelas sekali, berharap bahwa gigiku tidak jadi dicabut.
"Ngga, tidak sakit kok, tergantung itu giginya seperti apa menancap ke dalamnya, mudah-mudahan tidak susah cabutnya," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Masih dengan muka melongo dan memelas, aku bersuara kembali, "Om, ngga bisa ditambal aja kah?" perutku tiba-tiba terasa mulas. 
"Ngga bisa, Laura, percuma, nanti malah akan sakit ke depannya, udah cabut aja, ngga keliatan juga," Om Krisna menegaskan.
Aku langsung tau bahwa keputusan ini tidak bisa ditawar lagi.
"Ini langsung dibuatkan janji aja besok jam 6 sore lagi yah untuk Ibu ini," Om Krisna memerintahkan kepada asistennya.
Aku pun hanya bisa pasrah.

Sesampainya di rumah, aku bercerita pada Mam bahwa gigiku akan dicabut besok. Aku ketakutan. Rasanya kembali seperti anak kecil. Aku memikirkan terus bagaimana rasanya, sudah lama sekali aku tidak cabut gigi, sakitkah, mana giginya besar, begitu terus berputar-putar di dalam kepalaku. Mam dan Pap mengharuskan aku agar tetap datang esok hari dan dicabut giginya, tidak ada yang mendukungku.

Keesokan harinya, rasa takut semakin menjadi-jadi, apalagi saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku sempat tertidur sejenak, agak-agak berharap kalau tertidur sampai dengan jam 7 malam. Tapi Mam lebih pintar, jam 4.30 aku sudah dibangunkan, mau tidak mau aku harus bersiap-siap berangkat. Sesuai pesan Om Krisna, aku makan dulu sebelum jalan dan kali ini diantar oleh supir karena disuruh oleh Pap. 
"Siapa tau nanti kamu kesakitan pas mau balik," begitu alasannya. 
Dengan membuat tanda salib dan mengucap doa, aku pun berangkat.

Sesampainya di tempat praktek, Om Krisna sudah siap dengan 'perlengkapan perangnya'. 
"Ayo, langsung aja ya!" perintahnya.
Aku mengangguk lemah.

Begitu terduduk di kursi pasien, aku langsung memejamkan mataku, tidak berani melihat alat-alat apa saja yang digunakan. Jantungku berdegup kencang, seperti akan digiring ke area tembak. Sambil berdoa di dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga membayangkan hal-hal yang menyenangkan. 7 buah tattoo sudah aku miliki, tidak sedikitpun aku merasa sakit atau ketakutan saat membuatnya, tapi dihadapkan dengan seorang dokter gigi, aku mati kutu.

Rasanya sudah 1 jam aku duduk di kursi itu, padahal tidak sampai 15 menit.
"Oke, sudah boleh bangun, sudah selesai, Laura," Om Krisna sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Hah? Sudah selesai, Om? Giginya sudah dicabut?" sahutku tak percaya karena jujur aku tidak merasakan apa-apa barusan.
"Sudah kok, ini giginya." Om Krisna menjulurkan sebuah wadah yang berisi "mantan gigiku" di dalamnya.

Woahhhh...itu adalah gigi terbesar yang pernah aku lihat seumur hidupku, mengerikan rasanya membayangkan gigi sebesar itu dicabut dari mulutku. Tapi aku bersyukur, sudah selesai yeayyy, aku bersorak dalam hati. Om Krisna memberikanku resep obat untuk diminum sebagai penahan sakit, aku pun bisa bernafas lega kembali.

31 tahun aku hidup, sepertinya ini adalah salah satu pengalaman yang paling menyeramkan dalam hidupku *usap keringat*, padahal yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk memulainya.


"it's every little thing in your life that have grown you up, be brave" VC

A Storm in Kenny's Life

"Hore, Pap pulang hari ini," Kenny bersorak dalam hati. Wajah cewek itu kelihatan ceria sekali. Hari yang ia nanti-nantikan pun tiba. Setelah 1,5 bulan Pap menjalani pengobatan Chemoterapy yang ke-2 dan ke-3 serta Radiotherapy sebanyak 30x di negeri tetangga, Singapura, akhirnya Pap bisa pulang kembali ke rumah untuk istirahat sejenak sebelum lanjut ke treatment berikutnya. 

Pukul 6 pagi Mam sudah bangun, berbenah di belakang, Kenny terlihat masih guling-gulingan di atas kasur, menunggu saatnya Mam mandi. Setelah Mam mandi, menjelang pukul 7 cewek itu bangun, menyeret kakinya ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual paginya. Pukul 8 kurang seperempat, Kenny sudah duduk manis di belakang setir untuk mengantar Mam berangkat ke kantor. Tak ada yang spesial pagi itu - rutinitas yang membosankan, gumam Kenny suatu hari. Tentunya sangat berbeda jika dibandingkan dengan kehidupannya di Jakarta yang lebih hingar-bingar.

Pukul 10.30, cewek itu sudah bersiap-siap untuk pulang lagi ke rumah agar Mam bisa menyiapkan makan siang untuk Om Frans yang sejak 2 minggu yang lalu datang berlibur ke Indonesia. Tapi kali ini ia mengusulkan bagaimana kalau mereka membeli makanan jadi saja di luar.
"Gimana kalau kita beli bakmi aja, Mam? Kenny lagi pingin makan bakmi juga," pintanya sambil nyengir lebar. 
Mam setuju dan jadilah mereka pun pulang dengan membawa 3 bungkus bakmi.

Sesampainya di rumah, 3 bungkus bakmi dihidangkan dan mereka makan dengan lahap. Simple, tidak sampai 30 menit semuanya selesai makan, tidak seperti sebelum-belumnya dimana paling tidak Mam perlu menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk memasak, mempersiapkan makan siang kemudian makan bersama. Ditambah lagi Kenny tidak bisa memasak - dan memang tidak berminat belajar memasak juga - jadilah Mam selalu sendirian saat menyiapkan makan siang.

Selesai makan, cewek itu sigap membantu Mam membenahi tempat tidur yang nanti akan digunakan Pap, mengganti sprei dan merapikannya kembali. 
"Ganti yang baru biar segar, kan Pap sudah mau pulang," Mam berkata dengan raut wajah yang sangat gembira. 
Dalam hati, Kenny sangat terharu mendengar perkataan Mam itu. Yah, sudah 1,5 bulan Pap tidak berada di rumah, dia tau pasti kalau Mam pasti kesepian, hanya Mam begitu tegar dan tidak pernah menunjukkannya selama ini.

Pukul 12.30 Kenny dan Mam berangkat ke bandara. Di perjalanan mereka singgah untuk membeli nasi ayam pesanan Pap tadi lewat telepon. Sesampainya di bandara, ternyata Pap dan Kelvin, adik Kenny, belum sampai juga. Tidak terasa waktu pun berlalu 15 menit. Mam sudah tampak cemas, celingak-celinguk kesana kemari menanyakan apakah pesawat yang ditumpangi Pap sudah sampai atau belum. 

Syukurlah, tak lama kemudian terlihat rombongan penumpang mulai keluar melalui pintu kedatangan, kalau tidak Kenny sudah takut leher Mam akan sakit karena kebanyakan memutar-mutar kepalanya ke segala penjuru arah demi mencari Pap. 

Pap dan Kelvin belum terlihat juga. 2 petugas bandara membawa kursi roda melewati tempat kami berdiri dan menuju ke arah pintu kedatangan penumpang. "Oh, Tuhan," hati cewek itu mencelos.
"Apakah ini untuk membawa Pap? Apakah Pap sedang selemah itu fisiknya?" dia terus bertanya dalam hati. Ternyata kursi roda itu bukan untuk Pap karena sedetik kemudian cewek itu melihat Pap dan Kelvin mulai berjalan keluar ke arah mereka sambil melambaikan tangan.

Senyum merekah di wajah Mam saat menyambut kedatangan Pap, begitupun di wajah Kenny. Namun tak lama cewek itu kelihatan mau menangis ketika akan memeluk Pap. Pap yang selama ini selalu kelihatan gagah dan bersemangat, telah menjelma menjadi seseorang yang kurus dan tampak lemas. Belum pernah sepanjang ingatannya selama 31 tahun ini bahwa Pap pernah sampai sekurus ini. Menggunakan topi untuk menutupi kepalanya yang telah botak akibat efek samping Chemotherapy serta jaket yang kegedean, Kenny memeluk Pap dengan erat untuk mengucapkan selamat datang sambil menahan tangisnya. 
"Ya, aku tidak boleh menangis," batinnya dalam hati. "Aku tidak boleh menangis, karena jika aku melakukan itu, bagaimana dengan perasaan Pap, bagaimana dengan Mam, bagaimana dengan Kelvin," cewek itu terus menguatkan dirinya. Sebagai anak tertua di keluarganya, cewek itu merasa harus kuat - meskipun hanya pura-pura kuat karena ia tau bahwa ia tidak sekuat itu.

Kenny adalah orang yang cengeng, sangat cengeng. Hal-hal kecil saja bisa menyentuh hatinya dan membuatnya meneteskan air mata. Melihat seorang bapak tua yang gemetaran ketika mengantri panjang untuk membelikan handphone diskonan untuk anaknya saat cewek itu masih bekerja di kantonya dulu, menonton video pendek di Youtube tentang Sepucuk Surat dari Orangtua kepada Anaknya, melihat adegan perjuangan seorang Merry Riana saat membuktikan diri kepada sponsornya Alva pada film Mimpi Sejuta Dollar, semua itu sudah sanggup untuk membuatnya menangis. 

Dan sekarang, setiap hari, setiap saat cewek itu harus melihat keadaan Pap yang lemas, muntah-muntah karena efek samping obatnya, kaki-kakinya yang kurus, wajahnya yang penuh kerutan saat ia tidur, sering ingin membuatnya menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Belum pernah dia berada sedekat ini dengan Pap sejak ia divonis positif cancer. Sebelumnya, ia hanya sempat mendampingi Pap sebentar saja di tengah kesibukannya mengurus pernikahannya, sampai kemudian Pap pun harus kembali berobat ke negara tetangga. 
Tidak dapat kubayangkan bagaimana perasaan Kelvin yang setiap hari harus berdekatan dengan Pap dan menjaga Pap disana.
Kenny menghembuskan nafasnya perlahan.

Kenny tau bahwa dia tidak bisa menangis karena obat yang paling mujarab bagi penderita penyakit seperti Pap adalah pikiran yang positif, lingkungan yang positif. Karena itu, dengan menekan semua perasaannya, perasaan sedih, marah, stress karena tidak bisa bekerja dengan maksimal selama menemani Mam di rumah dan semua kekhawatirannya bagaimana nanti keadaan Pap dan Mam saat ia harus kembali ke Jakarta nanti, cewek itu berusaha tetap ceria. 
"Kamu harus kuat, Kenny, kamu harus tetap ceria, untuk menyemangati Pap dan Mam," setiap saat selalu diulang-ulangnya kalimat ini di kepalanya. 
Setiap malam tidak putus doa Novena ia panjatkan kepada Tuhan, meyakinkan diri untuk percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doa-doanya, memberikan kesembuhan total kepada Pap, memberikannya kesempatan untuk bisa membahagiakan Pap dan Mam. 

Dalam situasi seperti ini Kenny sadar bahwa untuk seorang Pap yang sedang berjuang melawan penyakitnya, Pap membutuhkan banyak cinta, cinta dari keluarganya, cinta dari orang-orang di sekitarnya.

"Tuhan, kuatkanlah kami, agar kami semua dapat terus berjuang bersama-sama Pap sampai pada hari  kesembuhan Pap nanti, amin," Kenny menutup doanya malam ini. 


"not only money counts, love matters" VC