Beberapa hari ini, hampir seluruh
media massa ramai memberitakan tentang eksekusi mati terpidana pengedar
narkoba. Hampir seluruh pengguna sosial media seperti Facebook pun tidak
ketinggalan membahasnya. Setiap aku membuka News Feed, yang muncul adalah
postingan-postingan mengenai hal itu. Ada pro, ada kontra tentunya. Apalagi
setelah eksekusi telah selesai dilakukan bagi 8 terpidana mati dan menyisakan
penundaan bagi 1 orang terpidana mati tersebut. Tiba-tiba sepertinya semua
orang menjadi ahli politik, ahli hukum, ahli kemanusiaan.
Hmmm, aku bukan penggemar
perdebatan, bukan juga penikmat pro dan kontra. Tapi, beberapa pemikiran muncul
di benakku :
1. Memang benar, para pengedar
narkoba itu jahat. Demi mendapatkan keuntungan pribadi, mereka rela
mengorbankan orang lain, bahkan sampai dengan nyawa orang lain tersebut pun
harus direnggut karena penggunaan obat-obatan yang mereka produksi atau
jual-belikan. Memang benar, Indonesia sebagai negara hukum yang berdaulat,
mempunyai aturan mainnya sendiri, barang siapa tertangkap mengedarkan narkoba,
hukuman mati adalah mutlak. Hampir setiap pengumuman dalam penerbangan
menginformasikan hal tersebut, belum lagi plang-plang besar yang terpasang di
bandara dan beberapa tempat umum lainnya. Aku bukanlah seorang yang mendukung
hukuman mati, karena aku percaya setiap orang bisa berubah dan bisa diampuni.
Jika ada jalan selain hukuman mati (hukuman seumur hidup dengan pengasingan di
pulau terpencil misalnya), aku rasa itu lebih baik. Sayangnya memang di Indonesia,
meski terpidana sudah dipenjara, mereka tetap bisa melancarkan aksinya,
tentunya karena dukungan petugas-petugas di sekitarnya yang bermental korupsi,
dimana menurutku orang-orang ini juga tidak lebih baik daripada pengedar
narkoba tersebut. Karenanya aku juga percaya pada sebuah norma dimana setiap
orang wajib menghargai peraturan dan hukum yang berlaku dimana mereka
menginjakkan kakinya. Jadi jika pemerintah Indonesia memutuskan hukuman mati
adalah jawaban, para pelaku seharusnya sudah mengerti hal itu, begitu pula
dengan pihak-pihak lain yang berada di belakangnya, langsung atau tidak
langsung.
Tapi, bukan berarti pula mereka
boleh dipojokkan oleh seantero pengguna sosmed. Ada yang bilang syukurin, ada
yang menepuki, ada yang tertawa, ada yang memaki-maki, ada pula yang tiba-tiba
menjelma menjadi "Tuhan" dengan berkata yakin bahwa terpidana mati
tersebut akan masuk neraka, selamat bertemu dengan-Nya untuk menjelaskan, atau
bahkan bahwa Tuhan tidak akan mengampuninya, buat apa bernyanyi-nyanyi memuji
Tuhan sebelum mati. Sebuah pertanyaan, siapakah kita ini sehingga bisa
menghakimi seperti itu? Pantaskah kita bertindak seperti itu? Apakah seluruh
hidup kita telah melakukan yang terbaik sehingga kita yakin bahwa kita tidak
lebih bersalah dari terpidana-terpidana mati tersebut? Apakah kita merasa kita
telah menjadi sama seperti Dia sehingga kita bisa tau apa yang Dia pikirkan?
Kita tidak pernah tau bagaimana hubungan pribadi mereka sekarang antara
orang-orang tersebut dengan-Nya, meskipun status mereka adalah pengedar
narkoba. Namanya juga hubungan pribadi, maka hanya antara Tuhan dan orang
tersebut yang tau. Memangnya kita tau bahwa Tuhan akan menempatkan mereka di
neraka? Memangnya kita tau apakah Tuhan akan mengampuninya atau tidak? Jadi
sekali lagi, pantaskah kita menghakimi?
2. Dalam semua ilmu ekonomi, aku
tau, ada permintaan maka ada supply. Begitu pula dengan narkoba, menurutku. Ada
pengedar, karena ada pemakai. Sekali lagi, aku tau narkoba itu jahat. Dan
mungkin orang-orang akan mengataiku karena aku tidak pernah merasakannya,
karena tidak ada orang dalam keluargaku yang pernah merasakan akibat buruk dari
narkoba. Tapi, menjadi pemakai adalah pilihan. Pemakai juga jauh tidak lebih
baik daripada pengedarnya. Orang menggunakan narkoba dengan sadar. Mereka bisa
memilih untuk menjauhinya, memilih untuk tidak memakainya. Aku juga bukan orang
suci. Main-main di dunia malam, ke club, juga menjadi hal-hal yang menyenangkan
bagiku. Kalau kemudian di setiap club yang aku datangi aku memang hanya
menikmati dance atau menari-nari berjam-jam, sambil sesekali minum bir, dan
bukannya menenggak obat-obatan aneh seperti kebanyakan orang lainnya yang ada
di club, maka itu juga adalah pilihan. Kalau aku bisa memilih, maka semestinya
demikian pula dengan orang lain. "Dunia rasanya runtuh, aku adalah orang
yang paling menderita di dunia ini; aku sakit hati, rasanya mau mati saja;
orangtuaku tidak mempedulikanku, mereka terlalu sibuk; oh aku butuh
pelarian!!" dan jadilah mereka berlari kepada narkoba. Hello, kamu doank? Kamu
doank orang yang paling menderita di dunia ini? Apa kabar Nick Vujicic? Apa
kabar Jonathan Pitre, Lizzie Velasquez? Atau Habibi? Atau Stephani Handojo?
(kalau kamu tidak tau siapa orang-orang itu, silahkan google). "Aku
dijebak temanku, sekarang aku tidak bisa tanpa narkoba". Yah, dijebak oleh
orang lain untuk masuk dalam lingkaran narkoba memang suatu peristiwa yang
menyedihkan. Tapi bukan berarti tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut, kan?
Memang butuh perjuangan dan menyakitkan, hanya masalah mau atau tidak kan?
Jadi, apakah para pemakai ini bisa disebut sebagai "hanya korban"
saja? Ok, mari kita memisahkan anak-anak kecil yang masih di bawah umur dengan
sebutan "korban". Di luar itu, bukankah perlu memilah-milah kembali
dalam penggunaan kata-kata tersebut? Sekali lagi, aku bukan pengguna narkoba,
keluargaku tidak ada yang menjadi "korban" narkoba, teman-temanku
tidak ada yang menjadi pengguna narkoba, hanya karena kami memilih untuk tidak
menggunakannya, memilih untuk tidak dekat-dekat dengan lingkungannya, memilih
lingkungan tempat kami bergaul sehari-hari, jadi mungkin aku memang tidak tau
bagaimana perasaan orang-orang ataupun keluarga yang terlibat di dalamnya.
Kembali ke bahasan awal, putusan
sudah dijatuhkan, eksekusi pun sudah dijalankan, jadi hormati saja, hormati
keputusan pemerintah, hormati keluarga terpidana dan terpidana mati tersebut.
Aku tau banyak yang cinta Indonesia sehingga tiba-tiba menjadi sarkastis,
membela negara dengan kata-katanya yang menggebu-gebu, saling serang dan
menjatuhkan dalam sosial media. Hanya, kalau boleh berpendapat, cinta negara
alangkah baiknya jika diwujudkan dalam perbuatan, urusan hukum, urusan politik,
percayakan kepada pemerintah yang mestinya sudah ahli dalam hal ini. Yang
pelajar yah belajar dengan baik, yang pekerja yah berkarya dengan baik, agar
suatu hari bisa memberikan suatu sumbangsih yang nyata bagi kemajuan bangsa,
bukan hanya dalam kata-kata. Atau, mungkin sudah ada yang kamu berikan bagi
Indonesia yang kamu sayangi ini? Belum? Yuk kita perbaiki diri sendiri dulu,
tidak ada salahnya melakukan tindakan nyata yang terbaik bagi orang-orang di
sekitar kita, bagi keluarga misalnya, kasih Papa dan Mama jalan-jalan keliling
Indonesia dan luar negeri, kasih anak untuk bisa sekolah di sekolah yang bagus
dan mendapatkan pendidikan terbaik, kasih pasangan kita makan malam yang
istimewa di restoran impiannya, sudahkah? Atau mungkin hanya tindakan untuk
memajukan diri sendiri sehingga kita bisa punya rumah sendiri, mobil,
penghasilan yang bagus, travelling, sudahkah?
"life is about choices, you
only live once, but if you choose right, once is enough" VC