Wednesday, September 23, 2015

A Storm in Kenny's Life

"Hore, Pap pulang hari ini," Kenny bersorak dalam hati. Wajah cewek itu kelihatan ceria sekali. Hari yang ia nanti-nantikan pun tiba. Setelah 1,5 bulan Pap menjalani pengobatan Chemoterapy yang ke-2 dan ke-3 serta Radiotherapy sebanyak 30x di negeri tetangga, Singapura, akhirnya Pap bisa pulang kembali ke rumah untuk istirahat sejenak sebelum lanjut ke treatment berikutnya. 

Pukul 6 pagi Mam sudah bangun, berbenah di belakang, Kenny terlihat masih guling-gulingan di atas kasur, menunggu saatnya Mam mandi. Setelah Mam mandi, menjelang pukul 7 cewek itu bangun, menyeret kakinya ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual paginya. Pukul 8 kurang seperempat, Kenny sudah duduk manis di belakang setir untuk mengantar Mam berangkat ke kantor. Tak ada yang spesial pagi itu - rutinitas yang membosankan, gumam Kenny suatu hari. Tentunya sangat berbeda jika dibandingkan dengan kehidupannya di Jakarta yang lebih hingar-bingar.

Pukul 10.30, cewek itu sudah bersiap-siap untuk pulang lagi ke rumah agar Mam bisa menyiapkan makan siang untuk Om Frans yang sejak 2 minggu yang lalu datang berlibur ke Indonesia. Tapi kali ini ia mengusulkan bagaimana kalau mereka membeli makanan jadi saja di luar.
"Gimana kalau kita beli bakmi aja, Mam? Kenny lagi pingin makan bakmi juga," pintanya sambil nyengir lebar. 
Mam setuju dan jadilah mereka pun pulang dengan membawa 3 bungkus bakmi.

Sesampainya di rumah, 3 bungkus bakmi dihidangkan dan mereka makan dengan lahap. Simple, tidak sampai 30 menit semuanya selesai makan, tidak seperti sebelum-belumnya dimana paling tidak Mam perlu menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk memasak, mempersiapkan makan siang kemudian makan bersama. Ditambah lagi Kenny tidak bisa memasak - dan memang tidak berminat belajar memasak juga - jadilah Mam selalu sendirian saat menyiapkan makan siang.

Selesai makan, cewek itu sigap membantu Mam membenahi tempat tidur yang nanti akan digunakan Pap, mengganti sprei dan merapikannya kembali. 
"Ganti yang baru biar segar, kan Pap sudah mau pulang," Mam berkata dengan raut wajah yang sangat gembira. 
Dalam hati, Kenny sangat terharu mendengar perkataan Mam itu. Yah, sudah 1,5 bulan Pap tidak berada di rumah, dia tau pasti kalau Mam pasti kesepian, hanya Mam begitu tegar dan tidak pernah menunjukkannya selama ini.

Pukul 12.30 Kenny dan Mam berangkat ke bandara. Di perjalanan mereka singgah untuk membeli nasi ayam pesanan Pap tadi lewat telepon. Sesampainya di bandara, ternyata Pap dan Kelvin, adik Kenny, belum sampai juga. Tidak terasa waktu pun berlalu 15 menit. Mam sudah tampak cemas, celingak-celinguk kesana kemari menanyakan apakah pesawat yang ditumpangi Pap sudah sampai atau belum. 

Syukurlah, tak lama kemudian terlihat rombongan penumpang mulai keluar melalui pintu kedatangan, kalau tidak Kenny sudah takut leher Mam akan sakit karena kebanyakan memutar-mutar kepalanya ke segala penjuru arah demi mencari Pap. 

Pap dan Kelvin belum terlihat juga. 2 petugas bandara membawa kursi roda melewati tempat kami berdiri dan menuju ke arah pintu kedatangan penumpang. "Oh, Tuhan," hati cewek itu mencelos.
"Apakah ini untuk membawa Pap? Apakah Pap sedang selemah itu fisiknya?" dia terus bertanya dalam hati. Ternyata kursi roda itu bukan untuk Pap karena sedetik kemudian cewek itu melihat Pap dan Kelvin mulai berjalan keluar ke arah mereka sambil melambaikan tangan.

Senyum merekah di wajah Mam saat menyambut kedatangan Pap, begitupun di wajah Kenny. Namun tak lama cewek itu kelihatan mau menangis ketika akan memeluk Pap. Pap yang selama ini selalu kelihatan gagah dan bersemangat, telah menjelma menjadi seseorang yang kurus dan tampak lemas. Belum pernah sepanjang ingatannya selama 31 tahun ini bahwa Pap pernah sampai sekurus ini. Menggunakan topi untuk menutupi kepalanya yang telah botak akibat efek samping Chemotherapy serta jaket yang kegedean, Kenny memeluk Pap dengan erat untuk mengucapkan selamat datang sambil menahan tangisnya. 
"Ya, aku tidak boleh menangis," batinnya dalam hati. "Aku tidak boleh menangis, karena jika aku melakukan itu, bagaimana dengan perasaan Pap, bagaimana dengan Mam, bagaimana dengan Kelvin," cewek itu terus menguatkan dirinya. Sebagai anak tertua di keluarganya, cewek itu merasa harus kuat - meskipun hanya pura-pura kuat karena ia tau bahwa ia tidak sekuat itu.

Kenny adalah orang yang cengeng, sangat cengeng. Hal-hal kecil saja bisa menyentuh hatinya dan membuatnya meneteskan air mata. Melihat seorang bapak tua yang gemetaran ketika mengantri panjang untuk membelikan handphone diskonan untuk anaknya saat cewek itu masih bekerja di kantonya dulu, menonton video pendek di Youtube tentang Sepucuk Surat dari Orangtua kepada Anaknya, melihat adegan perjuangan seorang Merry Riana saat membuktikan diri kepada sponsornya Alva pada film Mimpi Sejuta Dollar, semua itu sudah sanggup untuk membuatnya menangis. 

Dan sekarang, setiap hari, setiap saat cewek itu harus melihat keadaan Pap yang lemas, muntah-muntah karena efek samping obatnya, kaki-kakinya yang kurus, wajahnya yang penuh kerutan saat ia tidur, sering ingin membuatnya menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Belum pernah dia berada sedekat ini dengan Pap sejak ia divonis positif cancer. Sebelumnya, ia hanya sempat mendampingi Pap sebentar saja di tengah kesibukannya mengurus pernikahannya, sampai kemudian Pap pun harus kembali berobat ke negara tetangga. 
Tidak dapat kubayangkan bagaimana perasaan Kelvin yang setiap hari harus berdekatan dengan Pap dan menjaga Pap disana.
Kenny menghembuskan nafasnya perlahan.

Kenny tau bahwa dia tidak bisa menangis karena obat yang paling mujarab bagi penderita penyakit seperti Pap adalah pikiran yang positif, lingkungan yang positif. Karena itu, dengan menekan semua perasaannya, perasaan sedih, marah, stress karena tidak bisa bekerja dengan maksimal selama menemani Mam di rumah dan semua kekhawatirannya bagaimana nanti keadaan Pap dan Mam saat ia harus kembali ke Jakarta nanti, cewek itu berusaha tetap ceria. 
"Kamu harus kuat, Kenny, kamu harus tetap ceria, untuk menyemangati Pap dan Mam," setiap saat selalu diulang-ulangnya kalimat ini di kepalanya. 
Setiap malam tidak putus doa Novena ia panjatkan kepada Tuhan, meyakinkan diri untuk percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doa-doanya, memberikan kesembuhan total kepada Pap, memberikannya kesempatan untuk bisa membahagiakan Pap dan Mam. 

Dalam situasi seperti ini Kenny sadar bahwa untuk seorang Pap yang sedang berjuang melawan penyakitnya, Pap membutuhkan banyak cinta, cinta dari keluarganya, cinta dari orang-orang di sekitarnya.

"Tuhan, kuatkanlah kami, agar kami semua dapat terus berjuang bersama-sama Pap sampai pada hari  kesembuhan Pap nanti, amin," Kenny menutup doanya malam ini. 


"not only money counts, love matters" VC

No comments:

Post a Comment