Wednesday, September 23, 2015

Jane's Principle

Hari ini Jane akan berangkat ke suatu acara seminar bersama teman-teman satu teamnya. Malas membawa mobil - mengingat kemacetan Jakarta yang sudah di luar batas kewajaran - dia minta dijemput saja. Seperti biasa, cewek itu akan ditelepon kalau si penjemput sudah sampai di depan kosnya. Jane masih duduk di atas kasur sambil memelototi acara TV ketika tiba-tiba handphone-nya berbunyi. 
"Woi, ayo keluar sekarang yah, kami sudah di depan nih," seru suara di seberang sana. 
"Ok, tunggu sebentar yah," jawabnya cepat.

Bergegas ia mematikan TV, AC dan lampu kamar, memakai heels-nya dan berjalan keluar. Sesampainya di depan pagar, sebuah mobil Nissan Livina berwarna hitam telah menanti. Segera ia membuka pintu di bagian tengah dan masuk. Di dalamnya sudah ada tiga orang menanti, sambil mengunyah makanan, kelaparan juga rupanya mereka. Mobil pun kemudian mulai meluncur menuju ke tempat acara.

"Kak, mau ga nih cemilan?" Riko menawarkan sambil menjulurkan sebungkus Chitato. 
"Mau dunk, laper belum makan tau," serunya seraya menyambar bungkusan itu dari tangannya. 
Tak lama, kembali Riko bertanya, "Kak, ini boleh buang di depan ga? Buangin dunk," pinta Rico sambil menyerahkan bungkusan plastik snack lainnya yang sudah kosong. 
Belum sempat cewek itu menjawab, terdengar suara dari balik belakang kemudi di bangku depan, "Jane lagi ditanyain, mana mungkin boleh, dia kan miss go green," ujar pemilik suara itu sambil tertawa. 
"Iya, emang ga boleh, masa buang sampah sembarangan, sini!" Jane menarik kasar bungkusan plastik tersebut dari tangan Riko dan menyimpannya.

Yeap, Julio memang menjuluki Jane sebagai "Miss Go Green" sejak ia tidak sengaja memergoki cewek itu sedang memunguti bekas staples yang berserakan di lantai. 
"Ya elah, bekas staples aja dipungutin, rajin amat," godanya saat itu. 
"Biarin, namanya juga sampah, ya musti dibuang ke tempat sampah, kalau bukan kita siapa lagi," Jane mendelik padanya.

Jane memang sangat peduli dengan kelestarian lingkungan, meskipun baru hal-hal kecil saja yang ia lakukan seperti selalu membuang sampah di tempat sampah. Ketika tidak menemukan tempat sampah untuk bungkus permennya atau sekedar kertas bekas selotip amplop, dia lebih rela meletakkannya dulu di dalam tasnya sampai menemukan tempat sampah dan membuangnya di tempat yang seharusnya. Hal ini sering menimbulkan ejekan-ejekan kecil dari teman-temannya seperti pada kasus bekas staples. Tapi Jane cuek saja, tidak peduli, mau dikata kuno, kolot, konservatif, ia tidak ambil pusing. Cewek itu yakin bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Meski ga ngerti-ngerti amat tentang global warming, tapi dia cukup peduli dengan bumi tempat tinggalnya ini.

Jane masih teringat beberapa tahun yang lalu saat teman baiknya, Grace, berpacaran dengan seorang WNA yang berasal dari China. Saat itu mereka sedang berkendara bersama di dalam mobil menuju ke suatu acara pula. Saat Grace hendak membuang kertas keluar dari jendela, si pacarnya itu - yang sekarang sudah menjadi mantan tentunya - mencegahnya membuang kertas itu dan mengambilnya. 
"Aku saja cinta loh sama negara kalian, masa kalian sendiri tidak cinta," ujarnya saat itu. 
Jane merasa tertegun dan sangat malu mendengar ucapan cowok itu. 
"Ya, dia saja yang orang luar bisa menghargai negara kami, masa kami sendiri tidak bisa menjaga lingkungan kami sendiri," pikirnya. Sejak saat itu dia memutuskan untuk tidak pernah lagi membuang sampah sembarangan.

Hal yang sama terjadi pula pada saat persiapan acara pernikahannya. Tidak berminat mengikuti trend yang sedang berkembang saat ini, Jane mati-matian tidak mau menggunakan acara pelepasan balon selesai acara pemberkatan dari Gereja - meskipun di kemudian hari banyak yang bertanya kenapa tidak pakai acara lepas balon, kan keren Jane, begitu kata mereka. 
"Ga ah, ingat global warming," katanya kepada team WO yang menanyakan perihal acara pelepasan balon tersebut. Terbayang oleh cewek itu, 100 balon yang terbang tersebut entah kemana dan entah kapan akan hancur. Stefan, WO-nya, hanya tertawa mendengar jawaban tersebut. Untungnya, Jane punya calon suami yang memang sudah paham seperti apa sifat cewek itu dan ia pun meng-amin-i.

Menjadi berbeda memang tidak mudah, sering terkesan kaku dan terlalu taat peraturan, padahal turut serta berperan aktif menjaga lingkungan bukanlah suatu peraturan, tapi suatu kewajiban. Sayangnya, baru hanya segelintir orang yang sadar akan hal tersebut, apalagi di negara tercinta ini. Mau marah rasanya setiap melihat orang-orang membuang sampah seenaknya melalui jendela mobilnya. Baiklah, kalau belum bisa merubah mereka, setidaknya dimulai dari diri sendiri saja, itu yang menjadi prinsip Jane. Semoga akan lebih banyak orang yang tergerak untuk ikut menjaga negara dan bumi kita tercinta ini, bukan hanya sekedar tau saja.


"it's not about knowing right, but doing right" VC

No comments:

Post a Comment