Hari ini Jane akan berangkat ke suatu acara seminar bersama teman-teman satu teamnya.
Malas membawa mobil - mengingat kemacetan Jakarta yang sudah di luar batas
kewajaran - dia minta dijemput saja. Seperti biasa, cewek itu akan ditelepon kalau si penjemput sudah sampai di depan kosnya. Jane masih duduk di atas kasur sambil
memelototi acara TV ketika tiba-tiba handphone-nya berbunyi.
"Woi, ayo
keluar sekarang yah, kami sudah di depan nih," seru suara di seberang
sana.
"Ok, tunggu sebentar yah," jawabnya cepat.
Bergegas ia mematikan TV, AC dan lampu kamar, memakai heels-nya dan berjalan keluar.
Sesampainya di depan pagar, sebuah mobil Nissan Livina berwarna hitam telah
menanti. Segera ia membuka pintu di bagian tengah dan masuk. Di dalamnya sudah
ada tiga orang menanti, sambil mengunyah makanan, kelaparan juga rupanya
mereka. Mobil pun kemudian mulai meluncur menuju ke tempat acara.
"Kak,
mau ga nih cemilan?" Riko menawarkan sambil menjulurkan sebungkus
Chitato.
"Mau dunk, laper belum makan tau," serunya seraya
menyambar bungkusan itu dari tangannya.
Tak lama, kembali Riko bertanya, "Kak, ini
boleh buang di depan ga? Buangin dunk," pinta Rico sambil menyerahkan
bungkusan plastik snack lainnya yang sudah kosong.
Belum sempat cewek itu menjawab,
terdengar suara dari balik belakang kemudi di bangku depan, "Jane lagi ditanyain,
mana mungkin boleh, dia kan miss go green," ujar pemilik suara itu sambil tertawa.
"Iya, emang ga boleh, masa buang sampah sembarangan, sini!" Jane menarik kasar bungkusan plastik tersebut dari tangan Riko dan menyimpannya.
Yeap,
Julio memang menjuluki Jane sebagai "Miss Go Green" sejak ia tidak sengaja memergoki cewek itu sedang
memunguti bekas staples yang berserakan di lantai.
"Ya elah, bekas staples
aja dipungutin, rajin amat," godanya saat itu.
"Biarin, namanya
juga sampah, ya musti dibuang ke tempat sampah, kalau bukan kita siapa
lagi," Jane mendelik padanya.
Jane memang sangat peduli dengan kelestarian
lingkungan, meskipun baru hal-hal kecil saja yang ia lakukan seperti selalu
membuang sampah di tempat sampah. Ketika tidak menemukan tempat sampah untuk
bungkus permennya atau sekedar kertas bekas selotip amplop, dia lebih rela
meletakkannya dulu di dalam tasnya sampai menemukan tempat sampah dan
membuangnya di tempat yang seharusnya. Hal ini sering menimbulkan ejekan-ejekan
kecil dari teman-temannya seperti pada kasus bekas staples. Tapi Jane cuek saja,
tidak peduli, mau dikata kuno, kolot, konservatif, ia tidak ambil pusing. Cewek itu yakin bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Meski ga ngerti-ngerti amat
tentang global warming, tapi dia cukup peduli dengan bumi tempat tinggalnya ini.
Jane masih
teringat beberapa tahun yang lalu saat teman baiknya, Grace, berpacaran dengan
seorang WNA yang berasal dari China. Saat itu mereka sedang berkendara bersama di
dalam mobil menuju ke suatu acara pula. Saat Grace hendak membuang kertas
keluar dari jendela, si pacarnya itu - yang sekarang sudah menjadi mantan
tentunya - mencegahnya membuang kertas itu dan mengambilnya.
"Aku saja
cinta loh sama negara kalian, masa kalian sendiri tidak cinta," ujarnya
saat itu.
Jane merasa tertegun dan sangat malu mendengar ucapan cowok itu.
"Ya, dia
saja yang orang luar bisa menghargai negara kami, masa kami sendiri tidak bisa
menjaga lingkungan kami sendiri," pikirnya. Sejak saat itu dia memutuskan untuk
tidak pernah lagi membuang sampah sembarangan.
Hal yang
sama terjadi pula pada saat persiapan acara pernikahannya. Tidak berminat mengikuti trend
yang sedang berkembang saat ini, Jane mati-matian tidak mau menggunakan acara
pelepasan balon selesai acara pemberkatan dari Gereja - meskipun di kemudian
hari banyak yang bertanya kenapa tidak pakai acara lepas balon, kan keren Jane, begitu kata mereka.
"Ga ah, ingat global warming," katanya kepada team WO yang menanyakan perihal acara pelepasan balon tersebut. Terbayang oleh cewek itu, 100
balon yang terbang tersebut entah kemana dan entah kapan akan hancur. Stefan,
WO-nya, hanya tertawa mendengar jawaban tersebut. Untungnya, Jane punya calon
suami yang memang sudah paham seperti apa sifat cewek itu dan ia pun meng-amin-i.
Menjadi
berbeda memang tidak mudah, sering terkesan kaku dan terlalu taat peraturan,
padahal turut serta berperan aktif menjaga lingkungan bukanlah suatu peraturan, tapi suatu kewajiban. Sayangnya, baru hanya segelintir orang yang
sadar akan hal tersebut, apalagi di negara tercinta ini. Mau marah rasanya
setiap melihat orang-orang membuang sampah seenaknya melalui jendela mobilnya.
Baiklah, kalau belum bisa merubah mereka, setidaknya dimulai dari diri sendiri saja,
itu yang menjadi prinsip Jane. Semoga akan lebih banyak orang yang tergerak untuk
ikut menjaga negara dan bumi kita tercinta ini, bukan hanya sekedar tau saja.
"it's
not about knowing right, but doing right" VC
No comments:
Post a Comment