Sedang
asik-asiknya mengunyah makanan, tiba-tiba aku merasakan ada yang janggal dengan
kunyahanku, terasa ada yang keras, hmmm... Feeling-ku mengatakan seperti
mengunyah potongan gigi. Begitu kuambil ternyata benar, beberapa pecahan gigi
terlihat disana, yaikss. Dengan bantuan lidah, terasalah bahwa gigi geraham di
sisi kanan atas berlubang, hadehh, ini disaster.
"Mammm...itu dokter gigi yang dulu aku pernah kesana, namanya siapa yah?" aku berteriak dari tempat dudukku.
"Yang mana? Om Krisna?" pandangan Mam tetap terarah pada layar televisi.
"Bukan, yang satu lagi, itu kan teman Pap kalau Om Krisna," akhirnya aku berjalan malas-malasan menghampiri Mam.
"Om Yosep?" kali ini Pap yang menjawab. Kacamatanya agak diturunkan demi melihat wajahku saat ini yang kelihatan meringis.
"Nah, iya benar Pap. Masih praktek ga yah? Mau kesana, gigiku berlubang nih, mau
minta ditambal aja lah," sahutku sambil menunjuk-nunjuk ke arah pipiku.
"Ke Om Krisna aja kalau gitu," Pap menjawab lagi.
"Ah,
ga mau ah, dia suka ga mao terima bayaran, ga enak jadinya." Om Krisna memang tidak
pernah mau terima bayaran jika kami memeriksakan gigi atau berobat disana.
"Ngga, udah mau kok sekarang, bentar Mam telpon dulu buat janji," Mam beranjak dari kasur dan meraih handphone-nya.
"Oke."
Saat
sedang bersantai siang hari sambil menemani Pap di rumah, handphone-ku
berbunyi, ternyata dari Mam.
"Itu Om Krisna katanya bisa hari ini, langsung datang aja nanti jam 6 sore yah," Mam memberitahuku dari seberang sana.
"Siap, Mam," jawabku singkat.
Jam 5.30 sore aku pun berangkat menuju tempat praktek Om Krisna. Bahhh, hujan sejak tadi
siang membuat jalanan sedikit macet. Jam 6 pas aku tiba di tempat praktek Om Krisna.
"Hai, Om, pa kabar?" sapaku saat Om Krisna membukakan pintu ruangan prakteknya untukku.
"Hallo, Laura, gimana? Sini langsung duduk aja," ujarnya tanpa basa-basi.
"Ini nih, Om, gigiku pecah tadi, jadi berlubang deh, kayaknya gede lubangnya."
"Oke, biar Om periksa dulu yah." Om Krisna sudah sigap mengeluarkan peralatan-peralatannya yang langsung membuatku refleks untuk memejamkan mata.
Sudah
lama tidak pernah duduk di kursi ini, rasanya kok gemetaran yah. Meski aku
cukup pemberani dan tahan banting, tapi berasa jiper juga saat mau diperiksa
giginya. Tak lama kemudian Om Krisna pun sibuk memeriksa gigiku, sedangkan aku,
aku lebih memilih untuk terus memejamkan mataku selama dia mengerjakan tugasnya,
jujur aku takut melihat alat-alat yang dia pergunakan masuk ke dalam mulutku.
"Wah...wah, ini harus dicabut," gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
"Ermm...ermmm...," aku tidak bisa bicara banyak dalam posisi mulut terbuka
seperti ini.
"Om bersihin karang giginya dulu yah."
"Boleh, Om," susah payah aku berhasil menjawab.
Sedetik kemudian aku menyesali jawabanku ini.
Hal yang
kudengar berikutnya adalah suara mesin bercampur dengan alatnya yang kretak-kretuk di sekitar area gigi dan gusiku, sakitnya minta ampun. Terutama saat di
area gigi sebelah kiri yang jarang kugunakan - konon katanya semakin tidak
digunakan maka karang gigi semakin banyak dan semakin kotor. Ini adalah
pengalaman 30 menit terlama dalam hidupku. Ingin rasanya cepat-cepat selesai
dan kabur dari kursi itu. Setiap menahan sakit, aku berusaha merenggangkan kakiku
sejauh-jauhnya, entah kenapa aku berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya.
"Nah selesai, begini kan lebih enak, sudah bersih gigi kamu. Itu yang
berlubang giginya sudah dikasih obat yah, nanti besok kamu balik lagi untuk
dicabut," Om Krisna sudah melepas sarung tangan yang tadi ia pergunakan saat memeriksa gigiku.
"Hah? Jadi memang perlu dicabut yah, Om? Sakit ga?" mukaku kelihatan memelas sekali, berharap bahwa gigiku tidak jadi dicabut.
"Ngga, tidak sakit kok, tergantung itu giginya seperti apa menancap ke
dalamnya, mudah-mudahan tidak susah cabutnya," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Masih dengan muka melongo dan memelas, aku bersuara kembali, "Om, ngga bisa ditambal aja kah?" perutku tiba-tiba terasa mulas.
"Ngga bisa, Laura, percuma, nanti malah akan sakit ke depannya, udah cabut aja, ngga keliatan juga," Om Krisna menegaskan.
Aku langsung tau bahwa keputusan ini tidak bisa ditawar lagi.
"Ini langsung dibuatkan janji aja besok jam 6 sore lagi
yah untuk Ibu ini," Om Krisna memerintahkan kepada asistennya.
Aku pun hanya bisa pasrah.
Sesampainya
di rumah, aku bercerita pada Mam bahwa gigiku akan dicabut besok. Aku
ketakutan. Rasanya kembali seperti anak kecil. Aku memikirkan terus bagaimana rasanya, sudah lama sekali aku tidak cabut gigi, sakitkah, mana giginya
besar, begitu terus berputar-putar di dalam kepalaku. Mam dan Pap mengharuskan aku agar tetap
datang esok hari dan dicabut giginya, tidak ada yang mendukungku.
Keesokan
harinya, rasa takut semakin menjadi-jadi, apalagi saat jam dinding sudah
menunjukkan pukul 4 sore. Aku sempat tertidur sejenak, agak-agak berharap kalau
tertidur sampai dengan jam 7 malam. Tapi Mam lebih pintar, jam 4.30 aku sudah
dibangunkan, mau tidak mau aku harus bersiap-siap berangkat. Sesuai pesan Om Krisna,
aku makan dulu sebelum jalan dan kali ini diantar oleh supir karena disuruh oleh
Pap.
"Siapa tau nanti kamu kesakitan pas mau balik," begitu alasannya.
Dengan membuat tanda salib dan mengucap doa, aku pun berangkat.
Sesampainya
di tempat praktek, Om Krisna sudah siap dengan 'perlengkapan perangnya'.
"Ayo, langsung aja ya!" perintahnya.
Aku mengangguk lemah.
Begitu
terduduk di kursi pasien, aku langsung memejamkan mataku, tidak berani melihat
alat-alat apa saja yang digunakan. Jantungku berdegup kencang, seperti akan
digiring ke area tembak. Sambil berdoa di dalam hati, aku berusaha sekuat
tenaga membayangkan hal-hal yang menyenangkan. 7 buah tattoo sudah aku miliki, tidak
sedikitpun aku merasa sakit atau ketakutan saat membuatnya, tapi dihadapkan
dengan seorang dokter gigi, aku mati kutu.
Rasanya
sudah 1 jam aku duduk di kursi itu, padahal tidak sampai 15 menit.
"Oke, sudah boleh bangun, sudah selesai, Laura," Om Krisna sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Hah? Sudah selesai, Om? Giginya sudah dicabut?" sahutku tak percaya karena jujur aku tidak merasakan apa-apa barusan.
"Sudah kok, ini giginya." Om Krisna menjulurkan sebuah wadah yang berisi "mantan gigiku" di dalamnya.
Woahhhh...itu adalah gigi terbesar yang pernah aku lihat seumur hidupku, mengerikan rasanya membayangkan gigi
sebesar itu dicabut dari mulutku. Tapi aku bersyukur, sudah selesai yeayyy, aku bersorak dalam hati. Om
Krisna memberikanku resep obat untuk diminum sebagai penahan sakit, aku pun
bisa bernafas lega kembali.
31 tahun
aku hidup, sepertinya ini adalah salah satu pengalaman yang paling menyeramkan
dalam hidupku *usap keringat*, padahal yang dibutuhkan hanyalah sedikit
keberanian untuk memulainya.
"it's
every little thing in your life that have grown you up, be brave" VC
No comments:
Post a Comment