Hari itu
adalah hari di minggu ketiga dimana Ellie menjadi guru les private dadakan. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, institusi les private ini sepertinya agak
'abal-abal' alias kurang profesional. Seingat cewek itu, dia tidak pernah melakukan
interview atau bahkan bertemu dengan pengelolanya sekalipun, tapi mereka
menerima dan mempekerjakannya hanya berdasarkan konfirmasi by telepon. Entah
lebih kepada bodoh atau kebutuhan, Ellie meng-iya-kan saja dan menerima tawaran mereka
tersebut. Hmmm..., kalau seandainya kemudian cewek itu tidak digaji pun mungkin dia tidak
bisa berbuat apa-apa, dasar anak perantau yang butuh duit.
Sejak semester 3, Ellie sudah melakukan berbagai macam pekerjaan sampingan.
Sebagai anak daerah yang merantau ke Jakarta, cewek itu tidak pernah menyangka bahwa
hidup di Jakarta akan semahal ini. Uang bulanan yang dikirim Pap untuk
membayar kos dan makan sehari-hari tentunya tidak pernah cukup. Diam-diam,
tanpa sepengetahuan orangtuanya, dia mulai bekerja sampingan. Kalau ketahuan
Pap dan Mam, sudah pasti mereka akan marah dan menyuruhnya untuk konsentrasi
belajar, mengirimkan uang lebih banyak, tapi cewek itu tidak tega. Tidak pernah
sekalipun keluar kalimat dari mulutnya untuk minta uang tambahan. Berapapun uang
yang Pap kirimkan untuknya, dia cukup-cukupkan saja setiap bulannya.
"El,
uangnya cukup bulan ini? Masih ada uang?" begitu selalu tanya Pap setiap
menelponnya.
"Cukup kok, Pap, masih ada," dan begitu pula jawabnya setiap saat, padahal ketika itu mungkin dia sudah harus mencongkel-congkel
celengannya di kamar.
Tidak,
aku tidak akan pernah mau minta uang tambahan dari Pap, cewek itu berkeras. Dia tau, berapa banyak
biaya yang harus Pap keluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka semua setiap
bulannya. Adiknya yang pertama saja baru masuk kuliah, pasti sudah habis biaya
yang cukup besar. Belum ditambah dengan adik kecilnya yang masih sekolah. Jadi
solusinya, Ellie harus mencari uang tambahan sendiri.
Melihat
iklan yang biasa sering ditempel di kampusnya, cewek itu pun mendaftarkan diri untuk
menjadi guru les anak-anak SD. Meskipun tidak ada bekal mengajar sama sekali, dia nekat saja. Entah bagaimana caranya akhirnya Ellie pun diterima, dengan upah bayaran
Rp 20.000,- per sekali mengajar yang berdurasi kurang lebih 2 jam. Perjalanan menuju
ke rumah anak didiknya tersebut sendiri mengharuskannya untuk dua kali berganti angkutan umum serta berjalan
kaki. Saat pulang lebih mending, hanya satu kali naik metromini ditambah perjalanan dengan kaki yang
jauh lebih panjang. Total biaya perjalanan yang dihabiskan saat itu kurang
lebih lima ribu rupiah, jadi yang ia dapatkan hanyalah Rp 15.000,- saja. Meski
demikian, Ellie menjalaninya dengan senang.
Tapi
sepertinya, mengajar les is not her thing. Persis sebulan ia mengajar, hari itu seperti biasa Ellie sudah
berangkat lebih cepat menuju ke rumah anak didiknya. Cuaca agak kurang
bersahabat, mendung. Cewek itu berdoa agar jangan sampai hujan karena ia tidak
membawa payung, belum lagi jalan masuk menuju rumah anak itu masih lumayan jauh dari
pemberhentian angkutan umum terakhir. Sia-sia, apa yang ia takutkan justru terjadi.
Tepat saat cewek itu sudah tiba di pemberhentian, hujan mulai turun. Mau ga mau, Ellie tetap turun. Hujan pun semakin deras. Dengan berjingkat-jingkat ia berusaha berjalan dengan menumpang-numpang
teras depan rumah-rumah yang ia lewati di sepanjang jalan, tetap saja hal itu
tidak membantu karena hujan benar-benar turun dengan sadisnya. Sesekali ia berhenti sebentar untuk berteduh karena bajunya mulai basah, sembari cemas
melihat jam mungil di tangannya yang menunjukkan bahwa ia sudah telat.
Tidak
seberapa lama, Ellie nekat berjalan lagi, tapi hujan memang tidak reda-reda.
Bajunya kini sudah official basah, dari atas sampai ke bawah. Rambutnya acak-acakan, menggigil kedinginan, namun hujan tetap saja mengguyur dengan
sesuka hati.
Tidak mungkin aku datang ke rumah orang dengan tampilan basah
kuyup seperti ini, mana jam sudah menunjukkan bahwa keterlambatanku sudah tidak
dapat ditolerir lagi, batinnya dalam hati.
Dengan pasrah, Ellie mengambil handphone untuk menelepon institusi
yang mempekerjakannya dan minta izin bahwa ia tidak dapat datang mengajar. Cewek itu sudah bisa membayangkan bagaimana nasib karir sebagai guru private yang baru ia jalani ini.
Merasa
sudah tidak ada yang perlu dipertahankan lagi, Ellie pun berjalan gontai menuju
ke arah berlawanan untuk menuju halte metromini yang biasa membawanya pulang. Hujan masih tetap tidak bersahabat, semakin deras memuntahkan airnya ke
bumi. Pasrah, dengan seluruh tubuh yang menggigil dan basah tentunya, cewek itu terus
memaksakan diri berjalan. Kepalang basah, keluhnya.
Seakan belum selesai tragedinya hari ini, ternyata
jalan ia lalui mulai banjir. Ellie teringat bahwa memang daerah ini terkenal
dengan banjirnya pada saat hari hujan, ternyata benar. Jadilah cewek itu menerobos
banjir yang mulai naik setinggi dengkul kakinya. Perjalanan yang mestinya biasa ia tempuh sekitar 15 menit jalan kaki, serasa menjadi 1 jam di tengah hujan dan
banjir ini. Dengan
susah payah akhirnya cewek itu tiba di halte dan naik ke metromini, ia hanya ingin
segera pulang.
Jika hari ini Ellie mengingat moment itu kembali, dia bisa menepukkan tangan pada pundaknya sendiri sebagai simbol kebanggaan karena ia tidak sampai cengeng dan menangis, entah bagaimana kalau
orang lain yang menghadapi situasi tersebut. Rasa sedih dan kecewa memang besar
sekali dirasakannya saat itu.
Ternyata, cari uang susah sekali yah, mau dapat
uang duapuluh ribu aja begitu banget pengorbanannya, begitu pikirnya sendiri kala
duduk di dalam metromini itu. Tapi, karenanya cewek itu jadi sungguh-sungguh menghargai
perjuangan Pap selama ini yang bekerja keras mencari nafkah demi keluarganya.
Metromini itu tidak hanya membawanya pulang menuju kos, tapi membawanya kepada
kesadaran baru bahwa kini ia tau bahwa mencari uang tidaklah gampang, jadi ia harus lebih
menghargai dan mempergunakan uang dengan bijaksana. Dan Ellie pun bertekad harus berjuang agar
Pap pun tidak harus bekerja seumur hidupnya. Ia bertekad harus segera
mandiri secara finansial sehingga tidak perlu merepotkan Pap lagi. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, karir cewek itu sebagai guru les berakhir karena ternyata orangtua si anak
tersebut pun tidak mau memakai jasanya lagi gara-gara ia tidak muncul hari itu - wajar, namanya juga orangtua. Namun kejadian itu telah memberikan pengalaman yang sangat berarti buat perjalanan hidup Ellie selanjutnya.
"it
took a little bit pain to appreciate what you have, but it will be worth it,
just fight for whatever you want, as it's possible" VC
No comments:
Post a Comment